Mobil yang dirawat secara rutin belum tentu terbebas dari kerusakan. Cara seseorang menggunakan mobil setiap hari ternyata juga sangat berpengaruh terhadap usia berbagai komponennya.
Banyak kerusakan justru berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali. Pengemudi mungkin menganggapnya sepele karena mobil masih bisa berjalan normal. Namun, setelah dilakukan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dampaknya mulai terasa.
Menariknya, beberapa kebiasaan tersebut sering dilakukan tanpa disadari.
Mulai dari menginjak pedal gas terlalu agresif, sering melewati jalan rusak dengan kecepatan tinggi, hingga menunda servis karena mobil masih terasa nyaman digunakan.
Berikut beberapa kebiasaan yang sebaiknya mulai dikurangi agar mobil tetap sehat dan biaya perawatan tidak membengkak.
1. Sering Menginjak Gas Secara Mendadak
Menginjak pedal gas secara agresif memang membuat mobil terasa lebih responsif. Namun, jika dilakukan terlalu sering tanpa kebutuhan, berbagai komponen harus bekerja lebih keras.
Mesin, transmisi, sistem penggerak, hingga ban menerima beban yang lebih besar ketika kendaraan berakselerasi secara tiba-tiba.
Pada mobil dengan transmisi otomatis, kebiasaan berkendara agresif juga dapat membuat perpindahan gigi berlangsung lebih sering dan cepat.
Bukan berarti pedal gas tidak boleh diinjak dalam-dalam. Dalam kondisi tertentu, seperti ketika membutuhkan akselerasi untuk mendahului kendaraan lain, hal tersebut tentu diperlukan.
Yang perlu dihindari adalah menjadikannya sebagai gaya berkendara sehari-hari.
Mengemudi dengan akselerasi yang bertahap biasanya lebih nyaman dan membantu kendaraan bekerja secara lebih ringan.
2. Sering Mengerem Mendadak
Kebiasaan mengemudi terlalu dekat dengan kendaraan di depan membuat pengemudi lebih sering melakukan pengereman mendadak.
Akibatnya, sistem pengereman bekerja lebih keras.
Kampas rem merupakan salah satu komponen yang memang dirancang untuk mengalami keausan. Namun, gaya berkendara yang terlalu agresif dapat membuat keausannya menjadi lebih cepat.
Selain kampas rem, piringan rem juga dapat mengalami panas berlebih apabila kendaraan sering melakukan pengereman keras dalam kondisi tertentu.
Menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan dapat membantu mengurangi kebutuhan melakukan pengereman mendadak.
Selain lebih ramah terhadap komponen mobil, cara ini juga membuat berkendara menjadi lebih aman.
3. Mengabaikan Jalan Rusak
Jalan berlubang atau permukaan jalan yang tidak rata memang tidak selalu bisa dihindari.
Masalahnya muncul ketika pengemudi tetap melaju dengan kecepatan tinggi saat melewati jalan tersebut.
Benturan keras dapat memberikan beban besar pada ban, velg, shock absorber, tie rod, ball joint, dan berbagai komponen kaki-kaki lainnya.
Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, suara aneh pada kaki-kaki bisa mulai muncul.
Ketika menemukan lubang di jalan, sebaiknya kurangi kecepatan terlebih dahulu. Jangan melakukan pengereman atau manuver secara mendadak apabila kondisi lalu lintas tidak memungkinkan.
Perhatikan juga kondisi ban setelah menghantam lubang cukup keras. Benjolan pada dinding ban atau perubahan bentuk ban sebaiknya tidak diabaikan.
4. Memindahkan Posisi Transmisi Secara Sembarangan
Pada mobil otomatis, pengemudi perlu memahami fungsi masing-masing posisi transmisi.
Salah satu kebiasaan yang sebaiknya dihindari adalah memindahkan posisi transmisi secara terburu-buru ketika kendaraan belum benar-benar berhenti, terutama ketika berpindah antara posisi maju dan mundur.
Misalnya, kendaraan masih bergerak ke depan tetapi tuas langsung dipindahkan ke posisi R.
Kebiasaan seperti ini dapat memberikan beban yang tidak diperlukan pada sistem transmisi.
Untuk menjaga transmisi tetap bekerja dengan baik, biasakan kendaraan berhenti terlebih dahulu sebelum mengubah arah gerak menggunakan posisi transmisi.
Pada mobil manual, penggunaan kopling juga perlu diperhatikan. Jangan terlalu sering menahan pedal kopling dalam posisi setengah terinjak tanpa kebutuhan.
5. Jarang Mengecek Tekanan Ban
Tekanan ban sering baru diperiksa ketika ban terlihat kempis.
Padahal tekanan ban dapat berpengaruh terhadap kenyamanan, konsumsi bahan bakar, dan pengendalian kendaraan.
Ban yang tekanannya terlalu rendah dapat meningkatkan hambatan gulir sehingga mesin membutuhkan tenaga lebih besar untuk menggerakkan kendaraan.
Sebaliknya, tekanan yang terlalu tinggi juga dapat memengaruhi kenyamanan dan karakter pengendalian mobil.
Karena itu, biasakan memeriksa tekanan ban secara berkala.
Gunakan angka rekomendasi dari produsen kendaraan, bukan sekadar mengikuti perkiraan sendiri.
Tekanan ban yang tepat juga membantu keausan telapak ban menjadi lebih merata.
6. Menunda Servis Karena Mobil Masih Terasa Normal
"Mobil masih enak, nanti saja servisnya."
Kalimat seperti ini cukup sering menjadi alasan pemilik kendaraan menunda perawatan.
Padahal beberapa masalah pada mobil tidak selalu langsung terasa.
Oli mesin yang sudah waktunya diganti, misalnya, tidak otomatis membuat mobil langsung mogok. Namun, menunda perawatan terlalu lama dapat meningkatkan risiko masalah pada komponen mesin.
Hal yang sama berlaku untuk rem, filter, cairan kendaraan, aki, dan berbagai komponen lain yang memiliki jadwal pemeriksaan atau penggantian.
Jangan menunggu sampai muncul suara aneh atau lampu indikator menyala untuk mulai memperhatikan kondisi mobil.
Ikuti jadwal servis yang direkomendasikan pabrikan dan sesuaikan dengan kondisi penggunaan kendaraan.
Mobil yang sering digunakan di tengah kemacetan, membawa beban berat, atau menempuh perjalanan dalam kondisi tertentu mungkin membutuhkan perhatian lebih dibandingkan kendaraan yang penggunaannya ringan.
7. Membiarkan Mobil Kotor Terlalu Lama
Kotoran pada bodi mobil mungkin terlihat sebagai masalah penampilan saja.
Padahal jika dibiarkan terlalu lama, beberapa jenis kotoran dapat memengaruhi permukaan cat.
Debu, lumpur, kotoran burung, getah pohon, dan berbagai kontaminan lain sebaiknya tidak dibiarkan menempel terlalu lama.
Kotoran yang mengandung zat tertentu dapat membuat permukaan cat menjadi kusam atau meninggalkan noda.
Bagian bawah mobil juga perlu diperhatikan, terutama setelah kendaraan digunakan melewati jalan yang berlumpur atau terkena genangan.
Mencuci mobil secara berkala bukan hanya untuk membuatnya terlihat bersih, tetapi juga merupakan bagian dari perawatan.
Namun, cara mencuci juga harus benar. Gunakan peralatan yang bersih agar permukaan bodi tidak mudah tergores.
Kebiasaan Kecil Bisa Menentukan Umur Mobil
Merawat mobil sebenarnya tidak selalu membutuhkan tindakan yang rumit.
Banyak hal sederhana justru memiliki pengaruh besar jika dilakukan secara konsisten.
Mengemudi dengan halus, menghindari lubang dengan kecepatan tinggi, menjaga tekanan ban, menggunakan transmisi dengan benar, dan mengikuti jadwal servis merupakan kebiasaan yang relatif mudah dilakukan.
Sebaliknya, kebiasaan buruk yang dilakukan setiap hari dapat mempercepat keausan berbagai komponen.
Pemilik mobil juga sebaiknya tidak hanya memperhatikan mesin. Ban, rem, kaki-kaki, transmisi, sistem pendingin, kelistrikan, dan komponen lainnya sama-sama membutuhkan perhatian.
Kesimpulan
Mobil yang awet bukan hanya ditentukan oleh merek atau harga kendaraan.
Cara menggunakannya setiap hari juga sangat berpengaruh.
Kebiasaan seperti menginjak gas secara agresif, sering mengerem mendadak, menghantam jalan berlubang dengan kecepatan tinggi, salah menggunakan transmisi, mengabaikan tekanan ban, menunda servis, dan membiarkan mobil terlalu kotor sebaiknya mulai dikurangi.
Tidak perlu menunggu mobil mengalami kerusakan untuk mulai merawatnya.
Justru dengan kebiasaan sederhana yang dilakukan sejak awal, pemilik kendaraan dapat membantu menjaga performa mobil sekaligus mengurangi risiko pengeluaran besar akibat kerusakan yang sebenarnya bisa dicegah.
Merawat mobil bukan hanya soal mengganti oli dan melakukan servis. Cara kita memperlakukan mobil setiap hari juga merupakan bagian dari perawatan.
