Selama 11 hari penyelenggaraan, berbagai merek berlomba menawarkan produk, teknologi, program penjualan, hingga kendaraan baru yang belum pernah hadir sebelumnya di Indonesia.
Menariknya, persaingan tahun ini tidak hanya terjadi antara merek Jepang dan Korea. Merek asal China juga semakin terlihat kuat, terutama melalui kendaraan listrik dan elektrifikasi.
Lalu, bagaimana gambaran penjualan mobil di GIIAS 2026?
Toyota mencatat 6.175 SPK
Berdasarkan data yang dirilis Toyota Astra Motor, Toyota mencatat 6.175 surat pemesanan kendaraan (SPK) selama GIIAS 2026.
Angka tersebut menjadikan Toyota sebagai salah satu merek dengan perolehan SPK terbesar selama pameran.
Yang menarik, kendaraan elektrifikasi memberikan kontribusi cukup besar terhadap hasil tersebut. Toyota menyebut kendaraan elektrifikasi atau xEV menyumbang 56 persen dari total SPK selama GIIAS 2026.
Ini menunjukkan bahwa perhatian konsumen terhadap teknologi elektrifikasi semakin terlihat dalam sebuah pameran otomotif besar.
Namun, bukan berarti mobil bermesin konvensional langsung kehilangan peminat.
Toyota masih memiliki berbagai pilihan kendaraan dengan mesin pembakaran internal, hybrid, hingga teknologi elektrifikasi lainnya. Strategi tersebut membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
BYD semakin menunjukkan kekuatannya
Di posisi berikutnya terdapat BYD.
Berdasarkan laporan perolehan SPK sejumlah merek, BYD mencatat lebih dari 4.000 SPK selama GIIAS 2026. Capaian tersebut menempatkan BYD di antara merek dengan perolehan pemesanan terbesar pada pameran tahun ini.
Kehadiran BYD juga menarik karena merek ini berfokus kuat pada kendaraan elektrifikasi.
Salah satu model yang menjadi perhatian adalah BYD M6 DM. Berdasarkan laporan detikOto, model tersebut menyumbang sekitar 20 persen dari total SPK BYD atau sekitar 800 unit.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa konsumen Indonesia mulai memiliki pilihan yang semakin beragam ketika mencari kendaraan elektrifikasi.
Jika dahulu pilihan mobil listrik masih relatif terbatas, kini pengunjung pameran bisa menemukan banyak model dari berbagai merek dan rentang harga.
Chery dan Wuling juga mencatat ribuan SPK
Persaingan tidak berhenti pada Toyota dan BYD.
Chery dilaporkan mengumpulkan sekitar 3.500 SPK, sedangkan Wuling mencatat 3.290 SPK selama GIIAS 2026. Mitsubishi juga membukukan sekitar 3.212 SPK.
Khusus Wuling, perusahaan melaporkan bahwa Aira EV menjadi salah satu model yang paling banyak dipesan. Dari total 3.290 SPK Wuling, Aira EV menyumbang 2.238 unit atau sekitar 68 persen.
Angka tersebut cukup menarik karena menunjukkan bahwa kendaraan listrik bukan hanya menjadi pajangan teknologi di pameran.
Ada konsumen yang benar-benar memasukkannya ke dalam daftar kendaraan yang ingin dibeli.
GIIAS 2026 semakin ramai dengan mobil listrik
Kalau melihat produk yang hadir, salah satu tema besar GIIAS 2026 memang elektrifikasi.
Produsen membawa berbagai teknologi, mulai dari hybrid electric vehicle atau HEV, plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV, battery electric vehicle atau BEV, hingga range-extended electric vehicle atau REEV.
GAIKINDO mencatat ada 43 merek mobil penumpang yang mengikuti GIIAS 2026. Secara keseluruhan, pameran tersebut diikuti lebih dari 65 merek otomotif global, termasuk kendaraan penumpang, komersial, dan sepeda motor.
Bahkan, beberapa merek baru ikut meramaikan persaingan.
Changan, misalnya, memperkenalkan Nevo Q05 sebagai SUV listrik dalam debutnya di GIIAS. Mobil tersebut diklaim memiliki jarak tempuh hingga 462 kilometer.
Artinya, konsumen Indonesia sekarang tidak lagi hanya memilih antara mobil bensin atau mobil listrik.
Pilihan teknologinya semakin luas.
Mengapa GIIAS penting bagi penjualan mobil?
Pameran otomotif seperti GIIAS memiliki peran lebih dari sekadar tempat memamerkan kendaraan baru.
Di satu tempat, konsumen dapat melihat berbagai merek sekaligus, membandingkan desain, teknologi, fitur, harga, serta program penjualan.
Bagi produsen, kondisi seperti ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk baru sekaligus mendapatkan pemesanan langsung dari konsumen.
Momentum GIIAS juga datang ketika pasar otomotif Indonesia sedang menunjukkan perbaikan.
Data GAIKINDO menunjukkan penjualan wholesales mobil pada Agustus 2026 mencapai 81.756 unit, sementara retail sales mencapai 83.422 unit. Secara kumulatif Januari hingga Agustus 2026, penjualan mencapai 594.984 unit.
Toyota juga masih mencatat penjualan nasional terbesar pada Agustus dengan 20.357 unit wholesales dan 21.938 unit retail sales.
Jadi, hasil GIIAS tidak berdiri sendiri. Ada konteks pasar nasional yang ikut memengaruhi performa industri otomotif secara keseluruhan.
Persaingan merek semakin menarik
Satu hal yang terlihat jelas dari GIIAS 2026 adalah semakin ketatnya persaingan antarprodusen.
Toyota tetap memiliki basis konsumen yang besar. Namun di saat yang sama, merek-merek China seperti BYD, Chery, dan Wuling mampu mendapatkan perhatian melalui produk-produk baru dan teknologi elektrifikasi.
Konsumen akhirnya memiliki semakin banyak alternatif.
Kondisi ini juga dapat membuat produsen harus semakin serius menghadirkan fitur, teknologi, desain, harga, dan layanan purnajual yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Dengan banyaknya pilihan, keputusan membeli mobil menjadi semakin menarik untuk diamati.
SPK bukan berarti mobil sudah terjual secara retail
Ada satu hal penting yang perlu dipahami ketika melihat angka GIIAS 2026.
SPK bukan sama dengan penjualan retail kendaraan yang sudah selesai.
SPK merupakan surat pemesanan kendaraan dari konsumen. Setelah itu masih ada proses administrasi, pembayaran, pembiayaan jika menggunakan kredit, produksi atau distribusi kendaraan, hingga proses penyerahan unit.
Karena itu, angka SPK lebih tepat digunakan untuk melihat respons konsumen selama pameran, bukan sebagai angka penjualan retail final.
Perbedaan istilah ini penting agar kita tidak salah membaca data.
GIIAS menjadi gambaran arah pasar otomotif
Melihat hasil GIIAS 2026, ada satu perubahan yang cukup menarik: kendaraan elektrifikasi semakin menjadi bagian penting dari persaingan industri otomotif Indonesia.
Toyota mendapatkan 56 persen kontribusi SPK dari kendaraan elektrifikasi. Wuling mencatat Aira EV sebagai penyumbang terbesar SPK selama pameran. BYD juga memperoleh lebih dari 4.000 SPK.
Namun, mobil konvensional belum bisa dikatakan kehilangan tempat.
Pasar Indonesia masih sangat beragam. Ada konsumen yang membutuhkan mobil keluarga, kendaraan niaga, mobil irit untuk penggunaan harian, SUV, hingga kendaraan listrik.
Karena itu, produsen tampaknya masih harus menyediakan berbagai pilihan teknologi untuk menjangkau kebutuhan konsumen yang berbeda-beda.
Kesimpulan
GIIAS 2026 memperlihatkan persaingan industri otomotif Indonesia yang semakin ramai.
Toyota mencatat 6.175 SPK, sementara BYD memperoleh lebih dari 4.000 SPK. Chery, Wuling, dan Mitsubishi juga mencatat ribuan pemesanan selama pameran.
Yang menarik bukan hanya jumlah pemesanannya, tetapi juga semakin besarnya peran kendaraan elektrifikasi dalam persaingan tersebut.
GIIAS 2026 akhirnya bukan sekadar ajang melihat mobil baru. Pameran ini juga memberikan gambaran mengenai bagaimana pilihan konsumen Indonesia mulai berkembang.
Dulu pertanyaannya mungkin sederhana: "Mau beli mobil bensin atau diesel?"
Sekarang pilihannya sudah semakin panjang.
Ada hybrid, plug-in hybrid, mobil listrik murni, bahkan teknologi elektrifikasi lainnya.
Dan dengan semakin banyaknya merek serta model yang masuk ke Indonesia, persaingan untuk mendapatkan konsumen kemungkinan akan menjadi semakin menarik untuk diikuti.
Sampai jumpa di GIIAS 2027 di ICE BSD City, Tangerang Selatan. Semoga industri otomotif Indonesia terus melaju, menghadirkan inovasi baru, dan memberikan pilihan mobil yang semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.




